Have an account?

Senin, 01 Februari 2010

HOME

Proses akulturasi adalah suatu proses interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru. Salah satu bentuk adanya komunikasi dalam sebuah akulturasi budaya dapat dilihat pada hasil peninggalan berupa artefak-artefak, baik berupa karya seni rupa maupun arsitektur yang ada di suatu daerah, Keraton Sumenep merupakan salah satu peninggalan bangunan di Madura.

Kraton Sumenep dirancang oleh arsitek Lauw Pia Ngo dari Negeri Cina, dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dengan demikian maka warisan budaya itu tidak luput dari pengaruh budaya Jawa Hindu, Islam, Cina dan Belanda. Kesemuanya itu tampak pada penampilan dan penyelesaian bangunan-bangunan tersebut. Pendopo Kraton ternyata memiliki bentuk bangunan Jawa. Pendopo dengan atap Limasan Sinom dan bubungannya dihiasi dengan bentuk mencuat seperti kepala naga, merupakan pengaruh Cina. Sedangkan bangunan dalem terdapat bentuk gunung (top level) yang telanjang tanpa teritis dan diselesaikan dengan bentuk mirip cerobong asap di puncaknya, merupakan bukti pengaruh Belanda dan Cina. Pada ragam hiasnya juga nampak beberapa pola Jawa, Islam dan Cina yang dipadu cukup menarik. Bentuk arsitektur Kraton Sumenep, menunjukkan wujud adanya akulturasi antara budaya Madura, Cina dan Belanda.

Manusia adalah makhluk sosial-budaya yang memperoleh perilakunya melalui belajar. Dari semua aspek belajar tersebut, komunikasi merupakan aspek terpenting dan paling men-dasar. Lewat komunikasi manusia dapat berhubungan dengan lingkungan, serta mendapatkan pengakuan terhadap keberadaannya disebuah kelompok sosial. Menurut Peterson, Jensen dan River, komunikasi adalah pembawa proses sosial, alat yang dimiliki manusia untuk mengatur, menstabilkan, dan memodifikasi kehidupan sosialnya.

Banyak pandangan tentang budaya. Dalam konteks luas budaya diartikan sebagai paduan pola-pola yang merefleksikan respon-respon komunikasi terhadap rangsangan dari lingkungan. Pola-pola budaya ini pada gilirannya merefleksikan elemen-elemen yang lama dalam perilaku komunikasi individual yang dilakukan oleh mereka yang lahir dan diasuh oleh budaya. Proses yang dilalui oleh individu untuk memperoleh aturan-aturan (budaya) dimulai pada masa-masa awal kehidupan dengan cara proses sosialisasi dan pendidikan, pola-pola budaya tersebut ditanamkan kedalam sistem saraf dan menjadi bagian kepribadian dan perilaku. Proses yang terinternalisasikan ini memungkinkan manusia untuk berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang juga memiliki pola-pola komunikasi serupa. Proses memperoleh pola-pola demikian disebut Inkulturasi atau dalam istilah-istilah lain disebut pelaziman budaya dan pe-mrograman budaya. Hubungan antara budaya dan individu seperti yang terlihat pada proses inkulturasi, membangkitkan kemampuan manusia yang besar untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Secara bertahap imigran akan menyesuaikan dirinya dengan keadaan, dan kemudian belajar menciptakan situasi-situasi dan relasi-relasi yang tepat dalam masyarakat pribumi sejalan dengan berbagai transaksi yang dia lakukan dengan orang-orang lain. Demikian pula sebaliknya masyarakat pribumi secara perlahan akan mulai mengenal dan menerima berbagai masukan baru yang dibawa oleh si imigran. Perubahan perilaku tersebut juga terjadi ketika seorang imigran menyimpang dari pola-pola budaya lama yang dianutnya dan mengganti pola-pola lama tersebut dengan pola-pola baru dalam budaya pribumi.

Proses inkulturasi kedua yang terjadi pada imigran ini biasanya disebut akulturasi (accul-turation). Akulturasi merupakan proses yang dilakukan imigran untuk menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi, yang akhirnya mengarah kepada asimilasi. Menurut Koentjaraningrat proses akulturasi yang utama adalah unsur diterimanya kebudayaan asing yang diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan lenyapnya kepribadian kebudayaan asal. Dengan demikian pada akhirnya bukan hanya sistem sosio-budaya imigran, tetapi juga sistem sosio-budaya pribumi yang mengalami perubahan sebagai akibat kontak antar budaya yang lama. Namun dampak budaya imigran atas budaya pribumi relatif tidak berarti dibandingkan dengan dampak budaya pribumi atas budaya imigran. Faktor yang berpengaruh atas perubahan yang terjadi pada diri imigran adalah perbedaan antara jumlah individu dalam lingkungan baru yang berbagi kebudayaan asli imigran dan besarnya masyarakat pribumi. Juga kekuatan dominan masyarakat pribumi mengontrol berbagai sumber dayanya mengakibatkan lebih banyak dampak pada kelanjutan dan perubahan budaya dari imigran. Proses akulturasi adalah suatu proses interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru. Salah satu bentuk adanya komunikasi dalam sebuah akulturasi budaya dapat dilihat pada hasil peninggalan berupa artefak-artefak, baik berupa karya seni rupa maupun arsitektur yang ada di suatu daerah. Pada kajian ini penulis membahas salah satu fenomena yang menarik sebagai bukti komunikasi tersebut yang sangat berperan dalam proses akulturasi budaya. Tujuan dari penulisan ini adalah mempaparkan adanya akulturasi budaya Madura, Cina dan Belanda pada karya arsitektur-interior Keraton Sumenep yang sampai sekarang masih terpelihara secara baik.

VARIABEL-VARIABEL KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI BUDAYA

Proses komunikasi dalam akulturasi budaya, dipengaruhi oleh banyak varibel-variabel komunikasi. Salah satu kerangka konsep yang paling komprehensip dan bermanfaat dalam menganalisa akulturasi seorang imigran dari perspektif komunikasi terdapat pada perspektif sistem yang dielaborasi oleh Ruben. Dalam perspektif sistem, ada 3 unsur dasar sistem komunikasi manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya melalui dua proses yang saling berhubungan, yaitu komunikasi personal, komunikasi sosial dan lingkungan komunikasi. Pertama, komunikasi personal, adalah proses mental yang dilakukan manusia untuk mengatur dirinya sendiri dalam dan dengan lingkungan sosial budayanya, mengembangkan cara-cara melihat, mendengar, memahami, dan merespon lingkungan. Dalam kontek akulturasi, komunikasi personal seorang imigran dapat dianggap sebagai pengaturan pengalaman akulturasi ke dalam sejumlah pola respon kognitif dan afektif yang dapat diidentifikasi dan konsisten dengan budaya pribumi. Salah satu variabel komunikasi personal terpenting dalam akulturasi adalah kompleksitas struktur kognitif imigran dalam hal ini orang-orang Cina dan Belanda dalam mempersepsi lingkungan pribumi (budaya Madura). Variabel lain komunikasi personal adalah citra diri imigran yang berkaitan dengan citra-citra imigran tentang lingkungannya. Aspek motivasi akulturasi seorang imigran terbukti fungsional dalam memudahkan proses akulturasi. Semakin tinggi motivasi dari seorang imigran untuk melakukan penyesuaian dengan budaya setempat, maka semakin cepat pula proses terjadinya akulturasi budaya. Kedua, komunikasi sosial, berkaitan dengan komunikasi personal ketika dua atau lebih individu berinteraksi, sengaja atau tidak melalui komunikasi sosial individu-individu mengatur perasaan-perasaan, pikiran dan perilaku-perilaku antara yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi antar pesonal seorang imigran dapat diamati melalui derajat partisipasinya dalam hubungan-hubungan antar personal dengan anggota-anggota masyarakat pribumi. Derajat keintiman dalam hubungan-hubungan individu telah dikembangkan dengan anggota masyarakat pribumi, merupakan salah satu indikator penting tentang kecakapan komunikasi pribumi yang telah diperolehnya. Komunikasi yang melibatkan hubungan antar personal memberi imigran maupun umpan balik yang serem-pak, yang secara langsung berfungsi sebagai kontrol perilaku-perilaku komunikasi imigran. Ketiga, lingkungan komunikasi. Komunikasi personal dan komunikasi sosial seorang imigran dan fungsi komunikasi tersebut tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa dihubungkan dengan lingkungan komunikasi masyarakat pribumi. Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi dan akulturasi imigran adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat. Derajat pengaruh komunitas etnik atas perilaku imigran sangat bergantung pada derajat kelengkapan kelembagaan komunitas tersebut dan kekuatannya untuk memelihara budaya yang khas bagi anggota-anggotanya. Lembaga-lembaga etnik yang ada dapat mengatasi tekanan-tekanan situasi antar budaya dan memudahkan akulturasinya. Pada akhirnya masyarakat pribumilah yang memberikan kebebasan atau keluwesan kepada imigran minoritas untuk menyimpang dari pola-pola budaya masyarakat pribumi yang dominan dan untuk mengembangkan lembaga-lembaga etnik.




0 komentar:

Poskan Komentar

ShoutBox


Your Name
Your Email Address
Subject
Message
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Search

Memuat...